Hi! ini adalah salah satu cerpen buatanku. Semoga suka, selamat membaca!
***
Jakarta di malam hari tidak ada bedanya dengan keadaan Jakarta di pagi hari saat semua orang keluar rumah untuk melaksanakan kegiatan rutinnya, atau sore hari saat semua kembali pulang ke asalnya. Jakarta pada dasarnya sama saja. Ramai dengan bunyi klakson yang bersahutan, atau lampu penerangan jalan yang beberapa sudah terlihat usang.
bawah lampu penerangan jalan yang terlihat beberapa sudah tidak layak pakai, Athaya berjalan dengan membawa sketchbook di tangan kanannya.
Malam ini adalah malam Minggu, itu artinya jadwal bagi seorang Athaya Zivan Prabaswara untuk datang ke sebuah minimarket yang letaknya tidak jauh dari rumah. Selepas salat isya, Athaya bergegas keluar rumah dengan hoodie kesayangan yang membalut tubuhnya.
Saat membuka pintu minimarket, Athaya langsung disambut dengan senyuman dari penjaga kasir. Athaya hanya membalas dengan senyuman singkat lantas berbelok menuju rak-rak berisi mi instan. Mengambil salah satu cup mi instan, juga sebotol air mineral.
Ia memilih untuk membayar setelah memastikan jika mi instan nya sudah terisi air panas.
"Jadi dua puluh ribu."
Athaya mengeluarkan pecahan uang dua puluh ribu. Satu-satunya uang yang ia bawa setiap berkunjung ke sana.
"Uangnya pas ya, terima kasih."
Athaya hanya mengangguk singkat. Lantas ia kembali keluar minimarket. Di luar terdapat beberapa kursi dan meja yang sengaja disediakan pemilik minimarket untuk orang-orang yang berkunjung ke sana.
Malam Minggu memang malam-malamnya anak remaja. Terlihat beberapa kursi sudah penuh oleh beberapa kumpulan yang sedang saling bercerita dan melemparkan tawa.
Athaya melihat sekeliling, sedikit bernapas lega saat melihat kursi kesukaannya tidak digunakan siapa-siapa. Jelas saja, kursinya terletak paling pojok dan hanya berisi dua kursi saja.
Ia melewati begitu saja beberapa kumpulan yang memandang dirinya dengan pandangan menyelidik. Manusia itu memang kebanyakan mau tahu. Bukannya peduli, hanya penasaran. Biasa manusia seperti itu akan pergi saat rasa penasarannya sudah dituntaskan. Athaya sudah biasa ditatap begitu. Ia hanya mengedikan bahu singkat, lantas mendudukan dirinya di kursi.
Menaruh mi instan juga botol air mineral di meja bersamaan dengan sketchbook. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan pensil dari dalam sana.
Tangannya mulai lincah bergerak di atas kertas putih tersebut, mengeluarkan setiap ide yang bersarang di kepalanya sejak seminggu ke belakangan ini. Jujur saja, Athaya hanya bisa mengeluarkan imajinasinya saat malam Minggu seperti saat ini. Sedangkan malam-malam biasanya, sketchbook terletak di tumpukan buku paling bawah. Tidak tersentuh sama sekali.
Makanya, saat malam Minggu seperti melepas rindu bagi Athaya.
Merasa jika mi nya sudah mulai dingin, ia pun memakannya. Sambil menatap hasil karyanya. Ia mengulas senyum. Gambar dan Athaya rasanya sudah menjadi sahabat entah sejak kapan.
"Buat kamu."
Athaya yang sedang asik memakan mi nya lantas tersendak saat mendengar suara seseorang di samping tubuhnya.
"Eh eh, maaf. Aku nggak sengaja." Athaya mendongak, menerima uluran air mineral dari tangan seseorang yang sudah sangat ia hapal wajahnya.
"Maaf, maaf banget ngagetin kamu."
Athaya hanya mengangguk. Meskipun sekarang tenggorokannya terasa perih sekali.
"Kenapa?" tanyanya saat merasa sudah lebih baik.
"Penghapus."
Athaya mengernyit. "Apa?"
"Ini penghapus, buat kamu. Aku lihat kamu suka menggambar, tapi nggak pernah membawa penghapus. Kamu cuma bawa pensil dan sketchbook aja."
Meskipun bingung, Athanya tetap menjawab, "Karena aku nggak perlu penghapus."
Orang di depan Athaya mengernyit. "Kenapa begitu?"
"Yah ... fungsinya penghapus untuk menghapus hal yang salah agar terlihat baik-baik saja, kan?" Orang di depannya mengangguk patah-patah. "Karena fungsinya begitu, makanya aku nggak perlu penghapus. Bagi aku, banyaknya kesalahan dari setiap goresan di kertas ini, berarti sebanyak itu juga aku belajar untuk lebih baik lagi."
"Aku nggak ngerti."
"Kamu nggak perlu mengerti. Tapi, thanks buat penghapusnya, cuma aku nggak perlu."
Setelah itu Athaya menyingkirkan mi nya menjauh, selera makannya sudah menghilang begitu saja. Tapi, idenya masih mengalir. Makanya ia kembali mengambil pensil dan mulai menggoreskannya kembali.
"Kalau boleh tahu, kamu gambar apa?"
"Serius mau tahu?"
"Mau. Memangnya kenapa dengan gambar itu?"
Athaya mengedikan bahunya. "Karena aneh mungkin? Lihat saja, gambar ini tidak memiliki mulut."
"Ah iya, benar. Apakah itu karakter kartun?"
"Moomin."
"Moo ... apa?"
Bukannya menjawab, Athaya malah mendekatkan kursi sebelahnya. Lalu menepuknya. "Nggak capai dengerin orang cerita sambil berdiri begitu?"
Gadis di depannya gelagapan. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Jadi, aku boleh duduk?"
"Menurutmu?"
Gadis itu abai dengan jawaban Athaya. Sejujurnya, ia sudah memprediksi jika respon lelaki di depannya akan seperti itu. Tapi, jauh dari predisiknya jika lelaki yang sudah lama ia perhatikan itu bisa berbicara panjang lebar di perkenalan pertama mereka. Ah, perekenalan apa. Bahkan mereka saja belum menyebutkan nama masing-masing.
"Orang banyak yang bilang Moomin itu aneh. Kudanil tapi tidak memiliki mulut. Tapi, lain dari mereka, aku malah melihat Moomin ini menarik sekali."
"Jadi, Moomin itu serial kartun?"
Athaya mengangguk. "Iya, serial kartun dari Finlandia. Kamu boleh kapan-kapan coba menonton."
Tanpa sadar gadis itu menambahkan ceklis di dalam kepalanya tentang kapan-kapan ia harus menonton serial Moomin yang lelaki di hadapannya jelaskan tadi.
"Udah jam sepuluh, aku harus pulang."
Gadis itu ikut mengecek jam tangannya. Benar saja, waktu memang sudah cukup larut.
"Kamu nggak bawa ponsel?"
Athaya diam sebentar, sebelum akhirnya dia menggeleng. "Ponsel itu cuma buang-buang waktu. Lebih baik begini, tidak ada ponsel sama sekali, jadi aku bisa menghabiskan waktu dengan lebih positif."
Gadis itu terperangah. Ia cuma mengangguk patah-patah.
"Yaudah aku pulang. Omong-omong, kamu nggak pulang?"
"Aku bawah motor." Gadis itu menunjuk sepeda motornya yang terparkir di depan minimarket. "Kamu mau bareng?"
Athaya terkekeh. "Apa-apaan itu? Cewek ngajak cowok pulang bareng?"
"Yah ... kali aja kamu butuh tebengan."
"Nggak, nggak perlu. Aku udah biasa kok jalan dari sini ke rumah. Pasti kamu tahu itu juga, kan?"
"Hah? Maksud—"
"Athaya. Salam kenal ya ... Jehan."
"Dari mana kamu—"
"Itu." Athaya menujuk name tag yang masih tergantung di seragam yang Jehan gunakan. "Aku tahu nama kamu dari situ."
"Ah ... gitu."
"Sampai bertemu minggu depan ya—"
"Kenapa—"
"Aku rasa kamu tahu betul dengan jawabannya." Athaya melemparkan senyum lebar. "Dah, Jehan." Sambil melambaikan tangan, Athaya bergegas meninggalkan minimarket sebelum waktu semakin larut. Banyak hal yang menunggu di rumah dan Athaya harus hadapi itu semua.
Jehan mengulas senyum singkat. Seharusnya sejak dulu saja ia memberanikan diri untuk berkenalan dengan lelaki bernama Athaya yang selalu mampir di malam Minggu.
"Jadi, siapa namanya?"
Hampir saja Jehan melemparkan botol air mineral bekas Athaya, jika ia tidak langsung melihat salah satu seniornya sudah berdiri di sampingnya dengan senyuman jahil.
"Apaan sih, Kak!"
"Akhirnya ya Jehan, bisa kenalan juga sama dia. Jadi, siapa namanya? Anang? Budi? Agus? Bima—"
"Kakak! Apaan sih!"
Untuk saja waktu sudah cukup larut, sehingga pertengkaran antara Jehan dengan seniornya itu tidak menggangu siapa pun.
***
"Dari mana saja kamu?"
Athaya sudah menduga, jika kepulangannya malam ini tidak bisa mulus seperti biasanya. Terlalu sering sembunyi-sembunyi, akhirnya ia ketahuan juga. Seperti pepatah mengatakan : sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Yah, singkatnya Athaya sekarang sedang merasakan itu.
Ia melihat ibunya hanya terdiam di belakang tubuh sang ayah. Perempuan paruh baya itu mengatakan maaf lewat diam. Tidak perlu minta maaf, karena Athaya tidak perlu itu.
Tidak mempedulikan sang ayah, ia lebih memilih untuk melangkahkan kakinya menuju kamar.
"Athaya! Berani sekali kamu melawan Ayah!"
Athaya yang sudah siap masuk ke dalam kamar langsung membalikan tubuh.
"Apalagi? Athaya rasa nggak ada yang perlu dibicarakan lagi."
"Athaya, sekali-sekali kamu tuh dengerin Ayah, ikutin jejak—"
"Jejak siapa? Jejak Bang Angga? Atau Kak Alisa? Bang Angga yang sarjana kedokteran? Atau Kak Alisa yang udah jadi guru tetap? Ikutin jejak siapa, Yah? Siapa?!"
Athaya murka. Sungguh. Lelaki enam belas tahun itu terisak. Persetan dengan kata-kata lelaki tidak boleh menangis. Sketchbook kesayangannya sudah jatuh ke lantai, kertasnya berserakan mengingat Athaya sering kali merobek kertasnya di beberapa bagian. Gambar-gambarnya menyembul keluar, menjadi perhatian dari sang ayah. Tapi, tidak lama, karena setelah itu ayahnya kembali menatap Athaya dengan marah.
"Athaya, kamu tuh sebentar lagi akan lulus—"
"Athaya baru kelas satu, Yah. Masih lama. Biarin Athaya cari kesenangan Athaya dahulu, Athaya cuma mau—"
Perkataan Athaya terhenti saat telapak tangan ayahnya mendarat di pipinya, disusul dengan teriakan ibunya juga kedua kakaknya yang ternyata bersembunyi sejak tadi.
"Kamu dan gambar itu bukan perpaduan yang bagus. Lagipula mau apa kamu jika cuma gambar-gambar begitu? Semua orang juga bisa gambar, kamu seharusnya—"
"Terserah Ayah. Athaya nggak peduli."
Setelah itu, Athaya memilih untuk mengambil kembali sketchbook nya, lalu masuk ke dalam kamar. Nyatanya, mengeluarkan air mata di depan ayahnya pun sia-sia. Bagi lelaki itu, hal yang Athaya senangi saat ini bukan sesuatu yang baik untuk menunjang masa depan.
***
"Mau Abang anter?" Pertanyaan pertama yang menyambut Athaya saat keluar kamar.
Biasanya keluarganya akan melakukan ritual sarapan setiap pagi, tapi Athaya sengaja melawatkan itu semua dengan keluar kamar lebih siang. Tapi, tetap saja ia disambut oleh kakak lelakinya di depan pintu yang sudah menenteng rapi jas putihnya. Ah, melihat itu membuat sesuatu dalam diri Athaya kesal.
"Nggak perlu, Athaya naik angkutan umum aja."
"Enakan juga naik mobil sama Abang, adem nggak—"
"Yah ... Bang Angga dan kesempurnaannya, Athaya ngerti kok."
"Ta, nggak gitu."
"Terus apa?"
"Bolos, yuk?"
"Gila. Udah dicap sama ayah jadi anak yang nggak punya masa depan karena kerjaannya cuma gambar, sekarang diajak bolos juga? Mau dicap apalagi Ata?
"Sehari aja, kita lurusin semuanya."
Athaya tidak menjawab, karena setelah itu tangannya lebih dahulu ditarik oleh abangnya untuk pergi. Tanpa repot-repot mengganti baju, mereka keluar rumah dengan Athaya yang menyandang status sebagai murid yang bolos dengan seorang dokter umum. Aneh sekali.
***
"Bang, Ata nggak mau ya tiba-tiba dipanggil polisi karena ketahuan bolos."
"Dih, lagipula polisi mana yang repot-repot cuma buat nangkepin murid bolos?"
"Yah ... kali aja gitu."
Angga geleng-geleng kepala. Menyodorkan es krim ke hadapan Athaya. "Tuh, makan es krim biar dingin kepala."
"Tapi, Ata belum sarapan."
"Jadi, mau dibeliin nasi uduk dulu?"
Athaya mendelik. "Ya ... nggak gitu. Tau ah."
Angga terkekeh. Ia mendudukan dirinya di samping sang adik. Di hadapan danau, di bawah matahari yang cukup terik.
"Lumayan panas-panas makan es krim tuh enak." Angga menjilat es krimnya dengan nikmat. Athaya yang melihat itu akhirnya ikut memakan es krimnya dengan malu-malu. Tengsin lah, udah nolak mentah-mentah tapi dilakuin juga.
"Ta, Abang mau tanya."
"Tanya apa?"
"Kamu benci sama Abang dan Alisa?"
"Kenapa nanya gitu?"
"Ya ... karena Abang lihatnya gitu?"
Athaya memakan es krimnya dengan lahap. Setelah habis ia menaruh bungkusnya di atas rumput tempatnya duduk sebelum nantinya ia buang. Ia menatap Angga yang menanti jawaban.
"Ata nggak pernah benci Abang ataupun Kak Alisa. Kenapa? Ya ... karena kalian nggak salah. Cukup, kan?"
"Nggak. Sama sekali nggak cukup. Abang tahu banget kamu selama ini tertekan. Ingin mencoba mewujudkan impian tapi terhalang. Abang ngerti, Ta. Karena dahulu Abang juga begitu."
"Begitu gimana?"
"Iya, Abang dahulu pas SMA tuh suka banget badminton. Abang pingin banget jadi atlet. Tapi apa? Ayah nggak setuju. Yah ... salah Abang juga sih nggak melakukan apapun untuk wujudin mimpi Abang buat jadi atlet. Tapi, pada akhirnya, Abang terima. Jadi dokter oke juga." Kekehan di akhir kalimat Angga lemparkan.
"Tapi, Ata lihat Abang nggak bahagia?"
"Kata siapa?" Athaya tidak menjawab. "Gini, Ta. Kadang hidup tuh emang butuh pilihan, tapi kita juga butuh sosok untuk membantu kita menentukan pilihan. Siapa sosok itu? Ya orang tua. Orang tua yang bantu kita untuk menentukan pilihan di saat sulit. Abang yakin, mereka tahu mana yang terbaik untuk kita."
Melihat Athaya yang sudah siap-siap membuka mulut, Angga langsung menyela, "Ets! Abang belum selesai." Angga terkekeh saat melihat Athaya kembali mengatupkan bibirnya. "Bagi Abang, kamu dan Ayah itu cuma beda prinsip aja. Sejak dahulu, Ayah memang begitu. Jangan kamu pikir cuma kamu dan Abang yang diatur-atur. Lisa juga kok. Kamu pasti nggak tahu kan kalau dia tuh suka banget modeling? Cita-citanya pingin bisa jadi model di sampul majalah. Ada-ada aja, kan?"
"Tapi, itu termasuk impian kan, Bang?"
Angga mengangguk. "Itu impian, dan pilihan kita sendiri yang mau wujudkan mimpi kita atau nggak. Kamu, Athaya, suka menggambar itu nggakpapa, nggak dosa kok. Tapi, balik lagi, apa benar itu impian kamu? Apa benar menari-nari di atas kertas putih dengan pensil di tangan benar-benar passion kamu? Semua harus kamu pikirin lagi, Ta. Pikirin juga kata-kata ayah yang pasti tahu apa yang terbaik buat kamu. Kamu masih muda, masih banyak jalan ke depan yang harus kamu hadapi. Ini langkah awal menuju pendewasaan yang semoga aja kamu nggak ambyar di tengah jalan. Ngerti, kan?"
Athaya terdiam, dengan lipatan memenuhi keningnya. Angga yang melihat itu langsung menyentil kening sang adik. "Nggak usah terlalu dipikirin. Di umur kamu sekarang, banyakin senang-senang, karena masa muda itu cuma sekali. Nggak bisa diulang lagi kayak kamu main game, Ta."
Pagi itu menjadi pengingat bagi Athaya, jika kehidupannya bukan hanya tentang dirinya. Tapi juga tentang orang-orang di sekitarnya. Tentang orang-orang yang menginginkan segala hal baik mengikuti dirinya.
"Omong-omong, cewek yang waktu itu ngikutin kamu naik motor siapa?"
"Ha? Siapa?"
Angga mengedikan bahu. "Cewek, naik motor scoopy warna coklat. Pakai sweater rajut. Rambutnya pan—"
"Jehan?"
"Hm?"
"Masa iya Jehan ngikutin Athaya, Bang?"
"Jehan itu siapa?"
Pertanyaan Angga menguap begitu saja. Sedangkan Athaya dibalik diamnya mengulas senyum kecil. Jehan. Gadis penjaga kasir yang sedang mencoba memikat hatinya.
***
"Kemarin kamu nggak datang."
Athaya mengangguk sambil menerima satu cup kopi yang baru saja Jehan sodorkan.
"Aku semingguan habis ujian, jadi nggak sempat buat gambar."
"Oh begitu..."
"Iya. Oh iya omong-omong, kamu udah selesai shift?"
"Iya, udah jam aku pulang."
"Yaudah, yuk aku antar."
"Naik apa?"
"Naik motor kamu?"
Jehan tertawa. "Emang hanya itu sih jawabannya."
"Yaudah, mau nggak?"
"Boleh."
"Kuncinya mana?"
"Hah?"
"Ya, masa cewek yang bonceng cowok?"
"Emangnya nggak boleh begitu?"
"Bukannya nggak boleh, cuma nggak enak aja dilihatnya."
"Emangnya kamu bisa naik motor?"
"Perlu pembuktian?" Setelah itu Athaya memeragakan gerakan menaiki motor dengan tangannya seakan-akan sedang menarik gas.
Jehan terkekeh. "Iya-iya, percaya."
***
"Omong-omong, kamu nggak sekolah?"
"Kenapa, Ta?!"
Sudah dipastikan jika suara Athaya akan terhalau angin, tapi lelaki itu tetap saja bertanya di sela-sela perjalanan mereka.
"Kamu nggak sekolah?"
"Oh ... sekolah. Nggak, Ta. Nggak sempat. Ini aja aku kerja supaya bisa bantu Ibu."
"Nggak sempat?"
Athaya bisa melihat dari kaca spion jika Jehan mengangguk. "Ayah udah lama ninggalin aku berdua sama Ibu. Semenjak Ayah pergi, Ibu banting tulang buat biayain sekolah aku. Tapi karena nggak cukup, akhirnya aku ngalah, aku lebih milih kerja buat bantu ibu."
"Sejak kapan kamu berhenti?"
"Belum lama kok, baru habis lulus kemarin."
"Oh ... begitu."
"Iya, Ta. Tapi, kamu jangan kasihan melihat aku ya. Hidup aku tuh nggak kenapa-kenapa kok. Aku baik-baik aja, buktinya aja aku bisa cicil motor. Iya, kan?" Gadis itu terdengar tertawa kecil di belakang sana. Benar sekali, Athaya tidak melihat guratan kesedihan di wajah gadis itu. Justru dia terlihat antusias menceritakannya.
Selang beberapa lama mereka hanya terdiam. Athaya bisa melihat Jehan yang bolak balik melihat ke kanan dan ke kiri. Tanpa sadar itu mengundang kekehan dari Athaya.
"Kamu ketawa?"
"Apa?"
"Kamu tadi ketawa, Ta?"
"Kamu lucu."
"Ha?"
"Nggak, nggak jadi."
"Nggak kedengaran, Ta. Sumpah. Kamu ngomong apa tadi?"
"Nggak jadi. Rumah kamu masih jauh?"
"Lumayan. Makanya aku milih buat cicil motor tuh ini, rumahku jauh hehehe."
Benar, kan. Jehan itu tidak pernah sedih dengan keadaan hidupnya. Justru gadis itu bahagia sekali.
Melihat itu Athaya belajar jika banyak hal-hal yang harus ia ketahui di umurnya sekarang. Bukan hanya perihal masa depan yang selalu ayahnya pertanyakan, tapi juga cara memaknai kehidupan dari sudut pandang yang terbaik. Bersama Jehan, Athaya bisa belajar jika hidup itu tidak selamanya tentang kesedihan. Dan masa muda itu memang seharusnya untuk dinikmati.
End.
Salam hangat,
Astri
Komentar
Posting Komentar